Minggu, 04 Juli 2010

rindu berbisik

irama itu berdetak
nyaman dalam dada
senandung rindu
patah-patah

pada simponi malam
yang benar-benar malam
pada canda dalam mata; saja
rahsia yang terisap dalam-dalam

derit pintu
atau kadang gemerisik saja
senang untuk diulang dalam bincang-bincang
namun lewat mimpi; saja

karena ini rahsia malam
yang benar-benar malam

senyumku pada rembulan
sendu
tatapan entah
pada awan malam
pada bintang malam
dan sayup
suara hati, jerit sesaat; saja

ketukan pelan
atau panggilan perlahan
senang untuk diulang dalam bincang-bincang
namun lewat mimpi; saja

karena ini nestapa malam
yang benar-benar malam

mengejar angin itu
dalam labirin otak yang kehitaman
dalam malam
yang memang benar-benar malam

adakah ilalang itu
membelai dedaunan
menggoda gelora datang bertalu
dan menampar-nampar
indahnya
lalu petir
bahkan arus listrik yang dahsyat
terang sesaat
lalu gelap terulang
dalam bincang
karena sungguh, ini tentang malam
yang benar-benar malam

pada luka
pada jelaga
pada nestapa
pada rindu
terserak; patah-patah

ayuk
yuuk...
tanpa jawaban

sepi;

itulah derit pintu tanpa gelora
hanya dipandang lekat
tanpa sekat
tanpa godaan-godaan itu

lalu awan
semakin sepi; saja

udara menjadi gung liwang luwung...
rindu
perih
perih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar