Minggu, 04 Juli 2010

berbagi pada mentari senja

berbagi pada mentari senja,
sebait duka tertoreh di sebaris senyuman
yang manis, di bibir pantai
saat kupahat rindu, ku ukir cinta yang resah,
dan simponi kegelisahan kembali kita mainkan
ujung mata yang indah merobek ulu hati-ku
terkapar aku, terkapar aku,
kematian yang nista....
cinta-kah ini, urung aku tanyakan... karena
tak ada yang sudi menjawab
terlalu kering makna,
terlalu garing kata-kata
dan bermainlah kita, kembali mainkan simponi ini
kembali dan kembali
terulang lagi
meski berkali-kali disesali

kita berpegangan, terikat dalam satu detak
rindu menggunung,
getar itu terasa hingga ke karang,
gelombang menerpa,
lahar terdesak
meledak di ujung langit.
ayo kita ulangi. lagi.

dosa dan cinta

dosa selalu saja membawa pendar-pendar yg aneh
dalam dada
dalam detak jiwa
ketika jam merangkak; perlahan menuju malam...
jin dalam dada berubah menjadi syetan...
nikmatilah, nikmatilah... dan cinta menjadi moksa
padahal masih saja hati berusaha mengingatNya
namun hasrat begitu kuat,
aku cintai saja syetan manisku...
dan malam begitu pekat,
perjamuan itu semakin nikmat
cinta berlompatan
debur ombak,
desir hati,
sepoi-sepoi angin berputaran di rongga telinga
indahnya....
kokohnya ia manahan gelombangku
menbenturkan cinta pada kematian...
gelombangku nyaris karam
tertampar gelombang dahsyatnya...
apalah ini?
nafas tercecer satu satu... pada tetesan keringat,
linangan air mata,
gelisah hati,
dan cubitan kecil di leher belakang...
cintakah??
atau sekedar dosa yang hina??

rindu berbisik

irama itu berdetak
nyaman dalam dada
senandung rindu
patah-patah

pada simponi malam
yang benar-benar malam
pada canda dalam mata; saja
rahsia yang terisap dalam-dalam

derit pintu
atau kadang gemerisik saja
senang untuk diulang dalam bincang-bincang
namun lewat mimpi; saja

karena ini rahsia malam
yang benar-benar malam

senyumku pada rembulan
sendu
tatapan entah
pada awan malam
pada bintang malam
dan sayup
suara hati, jerit sesaat; saja

ketukan pelan
atau panggilan perlahan
senang untuk diulang dalam bincang-bincang
namun lewat mimpi; saja

karena ini nestapa malam
yang benar-benar malam

mengejar angin itu
dalam labirin otak yang kehitaman
dalam malam
yang memang benar-benar malam

adakah ilalang itu
membelai dedaunan
menggoda gelora datang bertalu
dan menampar-nampar
indahnya
lalu petir
bahkan arus listrik yang dahsyat
terang sesaat
lalu gelap terulang
dalam bincang
karena sungguh, ini tentang malam
yang benar-benar malam

pada luka
pada jelaga
pada nestapa
pada rindu
terserak; patah-patah

ayuk
yuuk...
tanpa jawaban

sepi;

itulah derit pintu tanpa gelora
hanya dipandang lekat
tanpa sekat
tanpa godaan-godaan itu

lalu awan
semakin sepi; saja

udara menjadi gung liwang luwung...
rindu
perih
perih.

batu karang itu...

Batu karang itu, setiap kali manahan badai
tak bergeming, meski pedih
gelombang yang menampar, membawa bulir2 pasir
dan ombak kadang menenggelamkannya
dan hujan kadang menelannjanginya

Batu karang itu, diam
tak berpaling tak menyapa
gelombangnya seakan api disimpan oleh sekam
jangan coba2 membangunkannya
singa itu bisa saja langsung menerkamnya

Batu karang itu, belajar untuk tetap bertahan
tak surut langkah
tak goyah oleh badai
oleh gelombang
oleh topan yang kadang muncul dalam dada
mengetuk bahkan menggedor pintu hati
"mana cintamu!!!"

Batu karang itu, menangis
mengapa perih tetap saja ada
mengapa ada saja gelisah
sedang detak jam dinding tetap saja
merangkak
menuju angka2 itu
dan pembuluh darah di mata mengalir lebih cepat
perih, ngantuk....
kapankah denyut nadi ini terhenti??

sute

aku berharap pada cinta
seperti emosi pagi ini, ketika detak
ketika debar, dan gelisah semalam terabaikan
tanpa senyuman
bagaimana harus aku lerai hatiku
hatinya
bagaimana harus aku jelaskan padamu
bagaimana harus aku akhiri
fragmen aneh ini
cinta yang kering ini
dan gelombang dahsyat yang hanyutkan karang

mengingati kita, dan hari-hari kita,
dan mimpi-mimpi kita
adalah melukis awan di kanvas langit
dan mendung sangat tidak kita inginkan
namun
selalu saja
ada saja
gelisah itu
angin-angin itu
berhembus di sekitar daun telinga
meniupi cinta
merobek perlahan jalinan hati
dan kau tak sadari...nya
bagaimana aku harus menjelaskan padamu

ada ketakutan,
namun kadang justru indah rasanya
ada cemas,
namun kadang justru nikmat rasanya
dan ombak itu
tak kuasa aku tahan
cinta terlempar di ujung ruangan

dan ketika tiba rindu,
jadi perih dan ngilu
kelam malam hadir penuhi isi kepala
cinta??
hanya sia-sia aku memaknainya

Kamis, 04 Februari 2010

singup;

awalnya aneh selalu merasa berbeda;
namun perlahan justru menikmatinya...

menjadi "geseh"
hidup rapih di tengah kegelapan kultural,
namun terlalu santai di tengah kerapihan dunia kantor...

menjadi pecundang di mata mereka,
pada saat yang sama justru sedang merasa menang....

aku biarkan saja; sampai suatu saat... seseorang meludah persis di muka kita.
biarkan saja.

Selasa, 05 Januari 2010

nyanyian trotoar terbongkar...

berbincang dekat, dengan lumut di balik bongkahan trotoar yang terbongkar... di bawah bayang-bayang patung pancoran....

semakin mendekat, pendar warna hijaunya menyatu dengan retina mata... dan percakapan menjadi serupa adonan nafas dan aroma luka...

* Adonan nafas yg tersekat dikubangan masa lalu. . . Haruskah ku lari??? Atau terperosok dalam pekatnya lumpur kekecewaan".

Demi mentari yg mungkin saja masih menyapa kita, kenapa tidak beranjak saja... Karena terjerembab adalah kepedihan tersayat...dan luka, dan anyir darah, genangan otak tumpah....

Senin, 04 Januari 2010

ruang yang waktu seakan telah berhenti

ini seperti dalam ruang yang waktu seakan telah berhenti, dan hanya denyut nadi kita yang seolah detik, karena nafas tidak lagi konstan....
berdebar selalu, dalam linangan tatapan mata...
dan bayang yang terpantul dalam dua cermin, tetap saja... mampu sampaikan pesan itu.
cinta yang kering, tertiup angin... mencari nafas-mu, mencari nadi-mu...

Tidak ada senyum, tidak ada tatapan, berjarak beberapa hasta, seakan tidak saling kenal.... Hanya butiran-butiran harapan berhamburan, penuhi langit hati;